Hari Puisi Indonesia

Hari Puisi Indonesia

HARI PUISI INDONESIA, Pada tanggal 28 April 2017 lalu, lini masa media sosial ramai oleh perbincangan seputar puisi. Sebuah tagar bertuliskan “Selamat Hari Puisi Nasional” menjadi trending topik. Banyak netizen Indonesia yang kemudian menuliskan kalimat-kalimat puitis pada hari itu dengan membubuhkan tagar seragam.

Beberapa media daring menulis bahwa 28 April, tanggal wafatnya Chairil Anwar, memang diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Tapi apakah 28 April memang Hari Puisi Nasional? Benar bahwa Chairil “Si Binatang Jalang” itu meninggal pada 28 April, tepatnya tahun 1949, di Jakarta. Namun begitu, sesungguhnya tak pernah ada penetapan ataupun deklarasi yang menjadikan tanggal kematian pelopor puisi modern Indonesia itu sebagai Hari Puisi Nasional. Sampai saat ini belum diketahui persis siapa yang mencetuskan tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional. Kejadian heboh yang terjadi di lini masa media sosial pada beberapa bulan lalu, bahkan tahunan lalu itu, barangkali semacam reaksi latah yang tak diketahui sebabnya, tapi merembet bagai efek domino. Orang-orang boleh saja mengenang kematian pujangga asal Minang itu dengan cara menuliskan cara menuliskan kutipan-kutipan puisinya. Masyarakat pun sah-sah saja merayakan haul sastrawan pelopor Angkatan 45 itu dengan membicarakan segala hal yang berkaitan dengan puisi di jagat maya.

Mengenang karya-karya dan kehidupan lelaki kerempeng yang disebut-sebut sebagai penyair terbaik Tanah Air yang pernah ada itu bukan hal yang salah.

Namun, menganggap tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional adalah perbuatan yang tak berdasar, kalau bukan disebut keliru. Sebab, Indonesia sebenarnya telah memiliki Hari Puisi yang bernama Hari Puisi Indonesia. Tanggal 26 Juli yang ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia pun sebenarnya masih tak lepas dari kehidupan “Si Binatang Jalang”. Pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar dilahirkan di Medan.

Pada 22 November 2012, sekitar 40 penyair dari seluruh Indonesia telah mendeklarasikan dan menetapkan tanggal kelahiran Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Indonesia. Deklarasi dan penetapan itu dilakukan di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau. Isbedy Stiawan ZS sebagai salah satu penyair yang kala itu ikut mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia, Gagasan (pendeklarasian dan penetapan) itu dari Rida K. Liamsi didukung Agus R Sarjono, Asrizal Nur, Maman S Mahayana, Jamal D. Rahman, dan lainnya.

Sejumlah penyair yang hadir antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta) selaku presiden Penyair Indonesia, D. Kemalawati (Aceh), Hasan Al Banna (Sumatera Utara), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Rida K. Liamsi (Riau), Hasan Aspahani (Kepulauan Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi) dan Isbedy Stiawan ZS (Lampung).

Selain itu, ada nama-nama penyair lain seperti Gola Gong (Banten), Agus R Sarjono (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Pranita Dewi (Bali), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), dan John Waromi (Papua).

Isbedy menuturkan, selain deklarasi Hari Puisi Indonesia, pertemuan para penyair di Riau waktu itu juga diisi dengan pembacaan puisi. Rusli Zainal selaku gubernur Riau saat itu pun turut membacakan puisi bertajuk Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar.

Setelah dideklarasikan, peringatan Hari Puisi Indonesia mulai rutin digelar sejak 2013. Yayasan Hari Puisi lantas didirikan untuk mendukung konsistensi dan kontuinitas perayaan Hari Puisi Indonesia.

Berikut bunyi lengkap teks deklarasi Hari Puisi Indonesia pada 2012:

Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia

Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.

Pekanbaru, 22 November 2012

 

Teks deklarasi tersebut dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bachri, pujangga Indonesia terkemuka, pada puncak Pertemuan Penyair Indonesia di Riau. Pada acara tersebut, sebelum momen deklarasi dan pembacaan puisi, Musyawarah Penyair Indonesia digelar lebih dulu. Terkait pengambilan tanggal lahir Chairil dan bukan tanggal kematiannya yang menjadi Hari Puisi Indonesia,

Dipilihnya tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia. Selain karena kepoloporannya, pemilihan Chairil pun karena totalitasnya dalam menggeluti dan menghidupkan puisi. Dan puisi itu berarti, berharga, Chairil mengorbankan seluruh hidupnya, totalitasnya pada bahasa pada puisi. Chairil bisa membuat bahasa yang tadinya lemah, dekoratif, tiba-tiba jadi bertenaga, tiba-tiba menjadi bahasa yang ekspresif. Itulah yang dilakukan oleh Chairil karena puisi, contoh potongan puisinya yang dihidupkan seperti dalam mural di daerah Yogyakarta yang bertuliskan “Mampus kau dikoyak-koyak sepi.” Kita juga pasti tak asing mendengar kalimat “Hidup hanya menunda kekalahan” atau “Sekali berarti sesudah itu mati.” Potongan-potongan karya Chairil Anwar itu kini bak milik semua orang, kepunyaan sejuta umat, baik mereka yang benar-benar mengenal karyanya atau tidak.

Namun, Hari Puisi Indonesia bukan ditujukan untuk sekadar merayakan Chairil. Hari Puisi Indonesia pada akhirnya adalah milik semua yang merawat puisi dan mengembangkan bahasa. Entah sebagai pencipta, penyair, maupun pembaca.

“Mungkin juga teman-teman di dunia musik berdebat soal itu. Tapi ketika ditetapkan intinya sebenarnya bukan untuk Chairil Anwar, tapi untuk orang-orang yang sekarang sedang merawat puisi, orang-orang yang sekarang sedang menumbuhkan puisi.

Biografi Sang Penyair

Chairil Anwar dilahirkan tanggal 12 Juli 1922 di Medan (Deli), Sumatera Barat. Umur 26 Tahun 9 Bulan dan dijuluki “Si Binatang Jalang(dari karyanya yang berjudul Aku) Meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta.

Untuk pertama kali menulis sajak-sajak sesudah jepang mendrat dalam tahun 1942. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Dia adalah pelopor angkatan 45. Pengaruhnya baru meluas sesudah Revolusi dan Zaman Merdeka. Revolusioner dalam bentuk dan isi sajak, membawa aliran Expressionisme, terpengaruh oleh Slauerhoff, Marsaman, Ter Braak, Du Perron. Ia pernah menjadi Redaktur Majalah “Gema Suasana”, bulan februari 1948 bersama dengan Ida Nasution. Lalu memimpin Majalah “Gelanggang”, lampiran kebudayaan wartasepekan, dan di majalah “Siasat”.

Kumpulan sajak-sajaknya: Deru Campur Debu, Kerikil Tajam, Yang Terhempas dan Yang Putus, Tiga Menguak Takdir (kumpulan bersama Rivai Apin, Asrul Sani, Chairil Anwar)

Terjemahan-terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (Le Retour de I’Enfant Prodigue), penulis asli Andre Gide, terbitan Pustaka Rakyat 1948. Kena Gempur (Raid) penulis asli Jhon Steinbech. Terbitan Balai Pustaka 1951.

Kahidupan Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai Bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun: sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan diHollandsch-Inlandsche School (HIS), Sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda.Ia kemudian meneruskan pendidikannya diMeer Uitgebreid Lager Ondwewijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) di mana ia berkenalan dengan dunia sastra: walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke,W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.

 

Kiprah Kepenyairan “Si Binatang Jalang”

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948. Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949 penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Menurut catatan rumah sakit, ia dirawat Karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya – yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, “Tuhanku, Tuhanku…” Dia meninggal pada pukul setengah tiga sore 28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya, diangkut dari kamar mayat RSCM ke Karet oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan termuka. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa “Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus“.

Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudulderu Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terhempas dan Yang Putus (1949), danTiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Karya Tulis Chairil Anwar yang Diterbitkan

  1. Deru Campur Debu (1949)
  2. Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949)
  3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  4. “Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi sajak 1942-1949”. Disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djiko Damono (1986)
  5. Derai-derai Cemara (1998)
  6. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  7. Kena Gempur (1951), terjemahan Karya Jhon Steinbeck

 

Karya Chairil Anwar di Terjemahan ke Bahasa Asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain Bahasa Inggris, Jerman, Bahasa Rusia, dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

  • “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
  • Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
  • Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
  • Dalam kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.

Karya-karya Tentang penyair Chairil Anwar

  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976)
  • Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • B. Jassin, “Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, “Gaya bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
  • Drama Pengadilan Sastra Chairil Anwarkarya Eko Tunas, sutradara Joshua Iqho, di Gedung Kesenian Kota Tegal (2016).

Si Mata Merah yang Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi

Dalam sebuah sajaknya, Chairil Anwar menyebut dirinya “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”. Lalu Chairil juga menulis optimistis: “Aku mau hidup seribu tahun lagi!”. Namun, pada tahun terakhir menjelang kematiannya, dia sadar, hidup yang diinginkannya serba mustahil: “Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada ahirnya kita menyerah.”

Sembilan Puluh Lima Tahun sudah Chairil meninggalkan kita. Ia meninggal pada 1949 di usia relatif muda: 26 tahun 9 bulan. Ia menderita penuh paradoks, tapi dari kemiskinan penyair kurus berwajah tirus dengan mata merah ini lahir sajak-sajak yang memperkaya bahasa Indonesia. Tahun-tahun ketika Charil Anwar menciptakan sajak-sajaknya, bahasa Indonesia adalah bangunan yang belum lengkap. Bahasa Indonesia banyak mengalami pergantian ejaan serta berusaha melepaskan diri dari bahasa daerah yang mengepung dan menjadi bahasa utama hampir seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan peran sastra pun pada masa-masa itu kerap diragukan, disepelekan. Namun Chairil dengan gagah ada di lapangan yang masih berbahasa minoritas itu. Hal yang menakjubkan dalam puisinya adalah puisi itu mematangkan bahasa Indonesia yang belum matang dan belum cukup digerakan itu.Chairil menjadi sebuah ikon. Riwayat hidup dan puisi-puisinya memperkaya kita semua, ia adalah perwujudan sepenuhnya dari pepatah Ars longa, vita brevis. Hidup itu singkat, Seni itu abadi.

 

Chairil dan Hal-Ihwal yang Tak Tergenggam

Puncak pendakian kepenyairannya Charil Anwar (1922-1949) adalah keberanian mendeklarasikan “Keakuan” dalam realitas “kekitaan” yang sepanjang waktu dijaga ketat oleh tentara, bahkan hingga naik-turun detak jantungnya pada malam buta. Ditangan Charil-lah bermulanya kesadaraan eksistensial dari subjek otonom dan autentik bernama: Manusia Indonesia. Aku yang mandiri. Aku yang tiada bakal tergoda apalagi terbeli. Aku yang “Haram-Jadah” berkompromi apalagi berdamai dengan kawanan maling yang masih leluasa menggeledah rumah sendiri.

Dalam tarikh dan riwayat yang singkat,Chairil mengerahkan segenap tenaga dan stamina, menyelam hingga ceruk-ceruk paling dalam, menikam hingga hulu belati ikut terbenam, guna merengkuh semesta keAkuan yang bebas, keAkuan yang menerabas tebing-tebing paling cadas, keAkuan yang tegas: Kalau sampai waktuku/ kumau tak seorang kan merayu/Tidak juga kau. Demikian sajak yang mengembuskan energi pembebasan, gairah yang mendidih, tetapi sekaligus membersitkan ketakutan tak terkira, pada zaman ketika setiap liang keliaran dipasung dan dikekang rapat-rapat oleh kedigdayaan kuasa Jepang.

Chairil adalah personalitas yang terbelah. Ia punya sajak “Aku”, yang telah menjadi suluh di kerak malam, yang membangkitkan ketangguhan dalam situasi ketika racun berada di reguk pertama/membusuk rabu terasa di dada/tenggelam darah dalam nanah, tetapi Chairil juga mendedahkan “Cemara Menderai Sampai Jauh”. Sajak yang mengandung kepasrahan pada hidup yang rapuh. Hidup yang hanya menunda kekalahan, sebagaimana kekalahannya dalam menaklukan perempuan idamannya (Ida Nasution, Sumirat, dan Hapsah). Tiga perempuan yang ia kekalkan dalam sajak-sajaknya, tiga perempuan yang mungkin pernah berada di tangannya, tetapi tak sungguh-sungguh ada dalam genggamannya.

Medan, Sastra dan Tragedi Keluarga

Keluarga orangtua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, bernama Toeloes bin Manan, seorang Controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya, bernama Saleha, putri dari bangsawan Koto Gadang, Sumatra Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir―perdana menteri pertama Indonesia. Kedua orangtua Chairil bercerai dan ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain. Akar kepenyairan Chairil dapat ditelusuri di Medan. Sebagian besar telah hilang.

Bohemian Pertama di Jakarta

Pada 1942, Chairil Anwar pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, Karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, yang menikah lagi.

Di Jakarta ia miskin bahkan terlantar, ia menggelandang dari satu tempat ke tampat lain, untuk bertahan hidup, ia sering mencuri kecil-kecilan, namun di “Kampung Besar” ini (Jakarta) pula Chairil ditempa Intelektualitasnya berkembang, bacaannya bertambah banyak, wawasannya semakin luas.

Sebagai keponakan yang tinggal di rumah Sutan Sjahrir, Chairil dekat dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh pergerakan nasional. Ia pernah menjadi kurir untuk menyampaikan informsai penting dari Sjahrir. Dan pernah pula mencuri barang-barang milik kawannya, pada saat itu Chairil lontang-lantung di Batavia (Jakarta), pada zaman pendudukan Jepang, hidup semakin sulit. Untuk bertahan, Chairil mencuri, menjual barang kawannya tanpa memberi tahu pemiliknya.

National Geographic (magazine) Indonesia (06/2017) merilis kali pertama untuk mereview kembali kiprah Chairil Anwar dengan memandang kota Jakarta,

Chairil mengubah Jakarta lewat syair-syairnya, pujangga ikonik Chairil Anwar mencoba memenuhi benak kita tentang Jakarta yang penuh nuansa, mulai sukacita hingga derita.

Jakarta di Mata Sang Pujangga dalam fragmen hidupnya di Ibu Kota, Chairil Anwar banyak menggoreskan kegetiran, juga sukacita, lewat bait sajak-sajaknya

Sumber gambar dari situs google

Merujuk ke Jakarta, (Cilincing) dahulu, kawasan Cilincing tersohor karena pantainya yang sangat indah. Seiring pabrik-pabrik, Cilincing tidak lagi ternikmati. Di sini, selain suka menyepi dengan bukunya, Chairil juga bertemu dengan pujaan hatinya, Mirat.

LEWAT SAJAK CHAIRIL ANWAR, KITA BISA BELAJAR BAGAIMANA MENJADI warga kota yang baik dan menjadikan kota ini nyaman ditinggali.

Chairil datang dengan kepercayaan diri yang penuh, juga dengan kegamangan seorang remaja yang wajar. Di tahun-tahun awal itu (1949), ia menulis bait: …tak acuh apa-apa / Gembira-girang / Biar hujan datang / Kita mandi-basahkan diri, Tahu pasti sebentar kering lagi (“Ajakan”, Februari 1943). Akan tetapi, pada saat yang sama di sajak lain ia juga menulis: …hidupnya tambah sepi, tambah hampa… bahaya tiap sudut (“Sendiri”, Februari 1943).

            Chairil, kata Marco Kusumawijaya (Arsitek yang banyak menulis tentang isu arsitektur dan kota) adalah manusia modern, yang membentuk dan terbentuk di Jakarta, kota yang mengembangkan modernitas dalam dirinya. “Chairil mengubah bahasa, sehingga mampu menangkap gejala-gejala modernitas itu. Kita ingat pidatonya: Kita hidup sekarang dalam 1.000 kilo meter per jam. Pada bagian lain di pidato itu dia bilang: Pengetahuan dan teknik zaman ini tinggal sudah. Ia menyebut rontgen dan istilah-istilah modern pada zaman itu,” Kata Marco.

            Pada hari-hari pertamanya di Jakarta, Chairil dan ibunya tinggal bersama pamannya, Sutan Sjahrir, di Jalan Damrink 19, kini bernama Jalan Latuharhary. RSCM adalah tempat terakhir Chairil, tempat ia mencoba bertahan hidup, bertarung dan mencoba menunda maut, tetapi kemudain menyerah kalah. TPU Karet Bivak adalah tempat yang secara intuitif dalam satu di antara lima sajak yang muram, yang ia tulis di tahun terakhir hidupnya, yaitu “Yaitu Terhempas dan Yang Putus”, Chairil menyebut: Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin (atau angin, pada salah satu dari lima versi lain sajak ini).

            RSCM dulu bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ), ada di Jalan Diponogoro 71, Nama dr. Cipto Mangunkusumo diletakan pada instsitusi ini pada tahun 1964. Sepuluh hari lamanya Chairil dirawat di RSCM karena penyakit tifus, kerusakan pada sistem pencernaan dan usus. Dia meninggal pada Kamis siang, 28 April 1949.

Koran Merdeka, pada edisi esoknya, menulis: Mereka yang banyak bergaul dengan pujangga muda ini serta tahu keadaannya memang telah lama mengetahui bahwa jiwa yang melahirkan sajak-sajak yang indah ini terbungkus dalam jasmani rapuh yang selalu menderita sakit-sakit.

            Nyawa Chairil tak terselamatkan. Achmad Sunjayadi mencatat satu kalimat dalam surat H.B Jassin kepada Saleha, ibunda Chairil di Medan. “Surat itu dikirim ketika Chairil masuk rumah sakit. Ada kalimat dalam surat itu yang bisa kita simpulkan, pada waktu itu kualitas rumah sakit di Medan lebih baik daripada di Jakarta. Seandainya Chairil sempat dibawa ke Medan mungkin nyawanya bisa diselamatkan,” katanya.

Patriot yang Eros, dan yang Belum Rampung

            Perempuan dan revolusi, dua tema itu senantiasa menggoda Cahiril Anwar. Di tengah gelagak pertempuran dan diplomasi, ia tampil dengan sajak-sajaknya yang patriotic. Sajak “Diponogoro”, misalnya, sangat populer hingga kini. Chariil juga mahsyur dengan puisi cinta yang ditujukan kepada beberapa perempuan. Siapa saja perempuan Chairil? Sejauh mana hubungan mereka? Ternyata Chairil juga menyisahkan hubungan sejumlah sajak yang belum selesai ditulis. Adakah itu sajak asmara atau sajak yang merefleksikan kancah peperangan.

            Laskar di balik meja dan Medan pertempuran, Chairil Anwar tidak hanya menulis puisi berdasarkan imajinasi, tapi juga terlibat langsung dalam hiruk-piruk revolusi.

Puisi yang sangat nasionalis di tulis Chairil

”Persetujuan Dengan Bung Karno”

Ayo Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

 

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

Puisi yang lain kental semangat perjuangan adalah “Krawang-Bekasi”. Chairil menulis puisi “Krawang-Bekasi” bukan berdasarkan imajinasi di belakang meja saja, melainkan juga terlihat langsung dalam hiruk-piruk perjuangan, keterlibatan Chairil dalam gebalau revolusi juga dicatat oleh sejarahwan Australia, Robert Bridson Cribb, dalam bukunya, Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949. “Pada 1946, sastrawan yang memilih bergabung dengan lascar, seperti Chairil Anwar, menerbitkan suplemen kesusastraan di dalam surat kabar Siasat yang diberi nama ‘Gelanggang’, “Ujar Cribb. Namun ia tidak mengupas lebih dalam peran Chairil Anwar.

DIBALIK ‘KRAWANG – BEKASI

            PADA November 1945, perdana Menteri Sjahrir memerintahkan semua personil Tentara keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan keluar dari kota Jakarta. Maklum, tentara Sekutu Inggris dan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang masih bercokol kerap digempur pasukan Indonesia. Padahal ibukota akan dijadikan kawasan diplomasi.

            Maka tentara Indonesia pun hijrah dan mengambil posisi di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Cibarusan, Karawang, dan Cikampek. Rupanya, keluarnya tentara ini juga diikuti sebagian aparat pemerintahan sipil, pedagang, wartawan, sastrawan, fotografer, hingga seniman−termasuk Chairil Anwar.

            Evawani Alissa, putri Chairil Anwar, mengisahkan, sepanjang akhir 1945-1947 itu, ayahnya memilih menetap di Karawang. “Ayah saya kan menikah dengan ibu saya, Hapsah, di Karawang” katanya.

            Rupanya, NICA yang dibantu Sekutu tidak puas hanya menduduki Jakarta. Mereka juga ingin menguasai lumbung padi dan perkebunan sepanjang Bekasi-Kawarang. Berkali-kali penjajah mencoba menembus pertahanan Indonesia di pinggiran Jakarta ini, tapi gagal. Serangan darat dan udara di belakang tangsi polisi Bekasi, awal Desember 1945. Orang-orang Belanda itu diringkus setelah melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, Bekasi.

            Serangan tersebut lalu dilanjutkan denga ratusan pertempuran yang dikenal sebagai Agersi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Peristiwa inilah yang direkam Chairil Anwar dalam sajaknya berjudul “Krawang-Bekasi”. Istmewanya, Chairil tidak hanya melakukan perenungan di balik meja belaka untuk puisinya itu. Maman S. Mahayana, kritikus sastra dari Universitas Indonesia, mengatakan Chairil terlibat langsung dalam pertempuran seperti halnya Pramoedya Ananta Toer, yang terlibat dalam pertempuran dan lalu ditulisnya dalam novel Di Tepi Kali Bekasi. “jadi puisi ‘Krawang-Bekasi’ itu merupakan pengalaman hidup,” ujarnya.

            Pengalaman langsung Chairil itu juga digambarkan dalam scenario film yang dibuat Sjuman Djaya, Aku. Pada scene 105-106, misalnya, digambarkan ketika Bekasi dibombardir Sekutu dan Belanda, Chairil Anwar dan Hapsah menyaksikan langsung kehebohan para pejuang mempertahankan diri.

            Sedangakn pada scene 107, Sjuman Djaya menulis, Chairil yang tengah melakukan perjalanan dari Karawang ke Bekasi menyaksikan mayat bergelimpanga di arus air sungai, di tebing, di jembatan-jembatan, di rawa-rawa, di atas pohon, atau di atas truk-truk dan pedati yang terbakar, di mana-mana. Semuanya itu tulisan Sjuman Djaya, dilihat dengan mata kepala Chairil sendiri. Dia tampak sekali terpengaruh, terpukul, dan teraniaya.

            Sajak itu akhirnya berumur sangat panjang. Sampai hari ini sajak tersebut terus dibaca orang. Oleh sebagian kalangan, “Krawang-Bekasi” dituding sebagai plagiat dari sajak Achibald MacLeish berjudul “The Young Dead Soldier”. Namun sastrawan Sapardi Djoko Damono tidak sependapat. Menurut dia, bisa saja Chairil menerjemahkan karya MacLeish itu, tapi hanya sebagian inspirasi untuk membuat setting baru. Kata dia “The Young Dead Soldier” dibuat di Eropa pada masa Perang Dunia II tanpa menyebut nama tempat. Sedangkan Chairil jelas-jelas menyebut Karawang dan Bekasi, “Dia memeberikan konteks baru sehingga maknanya meningkat”.

            Bertarihk 1949, sajak itu ikut membuat nama Chairil Anwar akan selalu dikenang.

            Kami sekarang mayat

            berilah kami arti

            berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

            kenang-kenanglah kami

            yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

            beribu kami terbaring antara krawang-bekasi.

 

ROKOK dan POSE SADAR GAYA

Sumber gambar dari situs google

Foto dengan pose merokok adalah potret terpopuler Chairil Anwar. Siapa pemotretnya? Perupa Agus Suwage pun terinspirasi.

Dalam foto itu Chairil Anwar sedang menghisap sebatang rokok. Ia tampak menghikmati betul. Tak tahu merk apa rokoknya. Juga jenisnya: rokok putih atau kretek. Yang jelas, sang pujangga terkesan menyedotnya dalam-dalam. Jari-jarinya menjepit rokok itu dengan kokoh, abu di ujung rokok pun belum dijentikkan, rambutnya tersisir rapi ke belakang, macam Parlente.

            Tak banyak yang tahu “foto eksistensialis” Chairil itu dijepret oleh seniman bernama Baharudin Marasutan, pegawai Balai Pustaka. Bersama Nasjah Djamin dan Wakidjan, Baharudin menjadi piñata letak sekaligus illustrator Balai Pustaka. Chairil mengenal Baharudin jauh sebelum dengan Nasjah dan Wakidjan. Bersama Chairil, Asrul Sani, dan Rivai Apin, Baharudin Marasutan termasuk seniman yang ikut mendirikan Gelanggang, paguyuban kesenian yang dibentuk pada tahun 1946.

Di bawah ini adalah kumpulan Puisi dan Pidato Karya Chairil Anwar
Semoga Menambah khasanah keilmuan kita.
Selamat Menikmati.

KRAWANG-BEKASI 
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

PRAJURIT JAGA MALAM 
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

MALAM 
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

DIPONEGORO 
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

AKU 
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943

PENERIMAAN 
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943

HAMPA 
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

DOA
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943

SAJAK PUTIH 
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

SENJA DI PELABUHAN KECIL 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946

CINTAKU JAUH DI PULAU 
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

MALAM DI PEGUNUNGAN 
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949

DERAI DERAI CEMARA 
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949

PENGANTAR | Pidato Chairil disampaikan di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, sebuah lembaga kebudayaan yang dibentuk oleh Sukarno pada jaman penjajahan Jepang 1942-1945, di Jakarta pada 7 Juli 1943, kemudian teks pidato itu dimuat di majalah Zenit, Th. I, No. 2, Februari 1951, dua tahun setelah Chairil meninggal. Sesuatu yang sangat khas Chairil Anwar, dan masih patut direnungkan, ketika kita sudi mengenang keberadaannya. Ialah tentang bagaimana semestinya seorang seniman berkarya, dengan segala totalitasnya, yang antara lain juga keberanian untuk memilih dan memilah, mana karya yang bertenaga dan mana yang ecek-ecek.

 

Motto:
Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebah

Segala erang dan jeritan

Kita pendam dalam keseharian

Mari berdiri merentak

Diri-sekeliling kita bentak

Ini malam bulan akan menembus awan

Sengaja tidak kuberi bentuk pidato pada pembicaraan ini, karena pidato melepas-renggangkan dari pembicara rasanya. Jadi kucari bentuk lain. Ada teringat akan menerang-jelaskan saja, sambil menganjurkan, sekali-sekali menyatakan pengharapan. Tapi takkan memuaskan ini! Ah, mengapa kupakai perkataan “puas”? Kan dalamnya berpengaruh besar arti-arti tercapai dan berhasil? Inikah maksudku? Barangkali ia… Memang ia! Memang! Memang! Sungguhpun berhasilnya kubatasi hingga: supaya tiap-tiap kata yang kuucapkan dipikirkan dan direnungkan dengan tenang!! Kesudahan kata: Kuberikan sebagian dari jiwa kalbuku, diriku… beberapa lembar dari buku harianku…

Di rumah, II/2603, malam

Ida! Idaku-sayang,

Aku bantah Idaku ini kali! Karena Ida katakn tenagaku mencipta sedikit sekali. Bukan! Jangan kira semata-mata akan mempertahankan diri maksudku, tetapi satu pikiran dan pendapatan (mungkin maksudnya: pendapat, sw). Tentang mencipta sendiri. Dalam gaya-lagumu berbicara dan pemakaian kata-katamu tadi sore, aku memperoleh kesan, Ida dipengaruhi amat oleh teman-teman Ida yang masih muda umur serta jiwa. Mari kunamakan oleh “hokum-wahyu” mereka. Seperti S. dan A. (maksud C.A., ialah Sam Amir dan Azhar, sw). Berapa kali kalau kita sedang berkumpul, percakapan dengan tak disedarkan mengelok kea rah seni, mereka berkata: Dorongan mencipta datang tiba-tiba, mendadak! Wahyu! Benar hingga kini! Aku setuju juga. Tapi disambung mereka lagi. Maka di waktu ini pulalah harus terus mempercayakan, menyerahkan pada kertas. Dalam bentuk prosa atau puisi. Dan… sampun ‘ndoro! ‘Kan tak kena ini Ida-adik. Renungkanlah sendiri, agak ia-ia sebentar! Kalau diturut mereka, maka pikiran dan dasar seni atau pilsapat itu datangnya sebagai cahaya surya dari langit, memanaskan kita dan jenak itu juga matang!!! Akibatnya: Ange’ ange’ ciri’ ayam!! Tidakkah hasil begini yang selalu jadi pokok keluh-kesah Ida juga? Seni kita sampai kini masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahipun tidak!

Aku sebagai seniman Ida, harus mempunyai ketajaman dan ketegasan dalam menimbang serta memutus. Dengarkan!!

Sepeninggal Beethoven didapat buku-buku penuh catatan.

Persediaan dan persiapan untuk lagu-lagunya yang merdu-murni serta sempurna.
Simponinya yang ke-5 dan ke-9 bukan begitu saja lahir, Idaku. Bertahun-tahun ahli musik besar ini bersiap-sedia, baru satu buah masak luar-dalam dapat dipetik. Missa solemnis-nya hasil kerja lima tahun lebih. Ida tentu pernah mendengarkan Mozart. Musik berjalan kesahajaan-kesederhanaan yang indah permai. Tapi meminta waktu juga sebelum ia bisa mengatakan ciptaannya siap. Ini seniman-seniman dalam arti sebenarnya lagi, yang menerima segala terus dari Tuhan…!!!

Ida! Rangkaian jiwa, lihat!

Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap yang menggetarkan kalbu, wahyu yang sebenarnya. Kita mesti bisa menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan. Jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguhpun impropisator besar! Tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni cipta.
Soal hidup dan matilah yang ia! Jangan, jangan Ida picingkan mata sipit Ida –danau kaca jernih tempatku tenggelam—curiga aku melebih-lebihi. Percayalah adikku, tidak ada yang lebih benar dari ini… Satu hal pula Ida salah tangkap. Apa yang kubentang-beberkan bukan untuk menghalangi ciptaan kita bertingkat-tingkat juga. Maksudnya: Ada yang jelek, sedang, bagus. Ini suatu yang tak bisa diceraikan memang, kalau mencipta.

Tergantung pada kita jadinya. Hanya sebagai seniman sejati kita member sebanyak-banyaknya, sebisa-bisa semuanya!!!

Sedang membaca seni kesusasteraan asli, bertenang mendengarkan Beethoven akan terasa oleh kita kesadaran jasmani dan gelora rohani sama berat berada dalamnya. Hingga jadi padu-satu. Sekaligus kukatakan: Pikiran berpengaruh besar dalam hasil seni yang tingkatnya tinggi. Berpikir yang mengandung menimbang serta memutus dengan sehat-cermat….

Aku Ida, Ratu-Hatiku, jangan samakan dengan pengebeng (maksudnya “pengibing”, sw) ronggeng yang mendendangkan pantun-pantun didapatnya sedang menari berlenggak-lenggak oleh – ah, kata apalah kupakai, aku tak mau mencemar-nodai pengertian wahyu?!!! – melihat kepenuh-montokan bentuk perempuan lawannya menari…!!!

Di rumah, / 2603, malam.

Ida! Ida! Ida!

Baru kubayang-biaskan dengan sepintas lalu pada adik ada kupikirkan bentuk dan garis baru untuk kesusasteraan kita. Sedang kita naik sepeda bersama, digumul-gulat kenikmatan berdua-sendiri rahsia kubuka. Sebagai sambilan saja. Tapi Ida… aduh, bahgia jiwa ada sangkut-kaitan!!! – terus penuh perhatian. Ida cengkam lenganku, mata Ida bersinar-sinar. Ida hujani aku dengan pertanyaan: Aku sendiri jadi terkejut…erhatian Ia terhadap tiap gerak-gerikku kiranya pancaran hati sanubari. Dan Ida pulalah, dupa-kepercayaanku, yang tahu minatku pada seni tidak sedikit.

Segala Ida mau terus tahu, bertubi-tubi tanya datang. Sehingga aku tak bisa bilang apa-apa jadinya. Sedang malu tak menentu barangkali. Entah karena belum mendarah daging kepastian. Tapi terlepas juga tarian-coretan kasar dari kandungan, conteng-moreng dari maksud. Pujangga muda akan datang musti, pemeriksa yang cermat, pengupas-pengikis sampai ke saripati sesuatu. Segalanya, segalanya sampai ke tangannya dan merasai gores-bedahan pisaunya yang berkilat-kilat. Segalanya! Juga pohon-pohon beringin keramat yang hingga kini tidak boleh didekati!!!
Tapi pujangga di masa akan datang –pujangga sejati! memanjatnya, dan memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu,…

Sudah berdesing-desing di kuping dahsat-hebat suara meneriakkan: Berhenti! Berhenti! Hai, Perusak, Peruntuh!!!

 

Aku berani memasuki rumah suci hingga ruang tengah! Tidak tinggal di pekarangan saja.
Aku terus Ida: aku terus, mengerti?!!!

Sungguhpun perlawanan-pertentangan menggunung. Sebentar-sebentar sangsi juga, tapi keberanian sebenarnya, ialah yang digenggam teguh melalui-menembus dinding sangsi. Kembali lagi!

Adakah insap mereka, tujuanku: intan yang dicanai kilatnya menyilaukan, mengedip-ngedipkan mata si penglihat. Dan – bukan untuk melepaskan diri dengan begitu saja, kan Ida kenal padaku – orang jangan kacau. Aku pengupas, bukan pendeta atau kyai tentang sesuatu. Sungguhpun mereka pengupas juga mustinya. Salahnya di sini Ida, mereka terlalu banyak menyebar-membentang, sedikit sekali mengupas. Ah! Penuh bahaya jalan untuk ditebas-rambah, Ida. Tapi hanya untuk menetapkan, aku pasti! Ini lagi! Adakah adikku pernah mendengar, tiang dan lantai penghidupan ialah… bahaya?!!

 

Di rumah,… /2603, malam.

Sayangku mesra, Dari yang satu ke yang lain, adik, selangkah demi selangkah.

Jika di perjamuan, sekarang kepala hidangan!

Tapi selembar dari buku harian tidak akan member kelengkapan, Ida tentu mengerti! Jadi tertegun-tegun juga aku sebentar memikirkan tarikan-tarikan tepat jitu supaya dapat adik kesan yang penuh pasti. Dapatkah Idaku menerka apa yang terbayang dengan terang-menyilau di mataku, ketika menuliskan baris-baris ini? Dapat? Kolonel Yamasaki, Ida! Perwira-perwira dari Attu!

Aduh, terus bersatu jiwa dengan beliau ini. Penjelmaan citaku memang!


 

Lanjutkan membaca “Hari Puisi Indonesia”

Iklan
Tak Berkategori

Manusia Kosmopolis

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis.

Manusia Kosmopolis

Manusia kosmopolis adalah manusia yang melihat dirinya sendiri sebagai warga negara dunia. Ia tidak melekat pada identitas sosial tertentu, melainkan melihat dirinya sebagai salah satu mahluk hidup di alam semesta ini. Ia hidup dengan nilai-nilai universal yang menghormati tidak hanya manusia lain, tetapi juga semua mahluk hidup. Bisa juga dibilang, bahwa manusia kosmopolis adalah mahluk semesta.

Sejatinya, kita semua adalah mahluk semesta. Sedari lahir, kita tidak melihat diri kita sebagai manusia, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, dan segala isinya.

Di dalam perjalanan hidup, kesadaran semesta ini lenyap, dan digantikan dengan kesadaran sempit sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu. Kesadaran sempit inilah yang nanti bisa berbuah menjadi tindak diskriminatif dan penindasan pada kelompok lain.

Untuk bisa mengembalikan dan menjaga kesadaran semesta ini, orang memerlukan pendidikan. Namun, pendidikan macam apa yang kiranya cocok untuk membentuk manusia kosmopolis ini?

UNSUR-UNSUR SEJATI PENDIDIKAN

Pendidikan manusia kosmopolis adalah pendidikan yang berakar pada unsur-unsur sejati pendidikan itu sendiri. Ada tiga unsur sejati pendidikan, yakni pemanusiaan, pembudayaan dan pembebasan. Pemanusiaan berarti penanaman nilai-nilai beradab manusia melalui kurikulum, interaksi dan pedagogi pendidikan yang ada. Nilai-nilai beradab itu menjadikan nilai-nilai universal hak-hak asasi manusia sebagai acuan utamanya.

Pembudayaan memiliki nada searah dengan pemanusiaan, yakni penanaman nilai beradab di dalam hidup, beserta dengan cita rasa seni, serta penghargaan pada karya-karya berharga dunia. Dalam arti ini, budaya dipahami sebagai bentuk-bentuk kehidupan yang berpijak pada nilai-nilai universal peradaban, seperti kehidupan, kebebasan, dan solidaritas.

Pembebasan berarti pelepasan manusia dari segala bentuk kemiskinan dan kebodohan. Dalam arti ini, kemiskinan tidak hanya berarti kemiskinan ekonomis, tetapi terlebih kemiskinan sudut pandang di dalam melihat dunia.

Pendidikan yang sejati berarti pendidikan yang memanusiakan, membudayakan dan membebaskan. Ia tidak mengubah orang menjadi robot-robot yang tunduk patuh pada tradisi ataupun kebiasaan lama yang tak pernah dipertanyakan sebelumnya.

NILAI “ASLI” INDONESIA

Banyak wacana yang menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai asli Indonesia sebagai dasar pendidikan. Namun, wacana ini, pada hemat saya, mengandung kesalahan berpikir mendasar. Tidak ada yang “asli” di muka bumi ini. Semua merupakan percampuran dari berbagai hal. Di dalam filsafat Timur, ini dinyatakan dengan pandangan sederhana, bahwa semua merupakan bagian dari semua. Seluruh alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang saling bertaut erat, dan tak terpisahkan.

trigeminal-neuralgia-2-ian-macqueen

Indonesia pun juga selalu merupakan sebuah campuran yang terus berubah. Tidaklah mungkin untuk menunjuk, bahwa “inilah” yang merupakan Indonesia yang asli.

Dengan demikian, keaslian adalah ilusi. Terlebih, keaslian adalah ideologi, yakni kesadaran palsu (falsches Bewusstsein) tentang dunia, yang sering digunakan untuk membenarkan penindasan atas orang ataupun kelompok tertentu, yang dianggap tidak asli.

YANG ALAMI

Sebagai alternatif, kita perlu memahami dan menyadari yang alami. Yang alami adalah diri kita sebagai mahluk semesta dalam hubungan dengan mahluk-mahluk lainnya di jagad semesta ini.

Inilah yang disebut sebagai kesadaran semesta yang sejalan dengan nilai-nilai ekologis yang sedang menjadi wacana dominan dewasa ini. Kesadaran akan apa yang alami ini berada sebelum segala identitas sosial muncul.

Manusia kosmopolis hidup dengan kesadaran atas apa yang alami semacam ini. Ia memegang nilai-nilai kehidupan universal, sambil terus peka pada perubahan yang terjadi di sekitarnya. Di dalam wacana pendidikan karakter, ia disebut juga sebagai well rounded person, yakni orang yang berkembang hidup dan kepribadiannya secara menyeluruh. Inilah manusia masa depan, dan pendidikan kita harus mengarah ke sana.

mekanisme membaca puisi

Mekanisme Membaca Puisi

Mekanisme Membaca Puisi

  1. Membaca puisi sebagai Apresiasi Puisi

Secara makna leksikal, apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 1985:2002). Sementara itu, Effendi (1973: 18) menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Pada dasarnya, kegiatan membaca puisi merupakan upaya apresiasi puisi. Secara tidak langsung, bahwa dalam membaca puisi, pembaca akan berusaha mengenali, memahami, menggairahi, memberi pengertian, memberi penghargaan, membuat berpikir kritis, dan memiliki kepekaan rasa. Semua aspek dalam karya sastra dipahami, dihargai bagaimana persajakannya, irama, citra, diksi, gaya bahasa, dan apa saja yang dikemukakan oleh media. Pembaca akan berusaha untuk menerjemahkan bait perbait untuk merangkai makna dari makna puisi yang hendak disampaikan pengarang. Pembaca memberi apresiasi, tafsiran, interpretasi terhadap teks yang dibacanya Setelah diperoleh pemahaman yang dipandang cukup, pembaca dapat membaca puisi.

Karena kata “membacakan” mengandung makna benefaktif, yaitu melakukan sesuatu pekerjaan untuk orang lain, maka penyampaian bentuk yang mencerminkan isi harus dilakukan dengan total agar apresiasi pembaca terhadap makna dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Makna yang telah didapatkan dari hasil apresiasi diungkapkan kembali melalui kegiatan membaca puisi. Dapat pula dikatakan sebagai suatu kegiatan transformasi dari apresiasi pembaca dengan karakter pembacaannya, termasuk ekspresi terhadap penonton.

  1. Faktor-faktor Penting dalam Membaca puisi

Setiap bentuk dan gaya baca puisi selalu menuntut adanya ekspresi wajah, gerakan kepala, gerakan tangan, dan gerakan badan. Keempat ekspresi dan gerakan tersebut harus memperhatikan (1) jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll, (2) pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll, (3) pemahaman puisi yang utuh, (4) pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, (5) tempat acara: indoor atau outdoor, (6) audien, (7) kualitas komunikasi, (8) totalitas performansi: penghayatan, ekspresi, (9) kualitas vokal, (10) kesesuaian gerak, dan (11) jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, harus memperhatikan (a) pemilihan kostum yang tepat, (b) penggunaan properti yang efektif dan efisien, (c) setting yang sesuai dan mendukung tema puisi, (d) musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi

  1. Bentuk dan Gaya dalam Membaca puisi

Suwignyo (2005) mengemukakan bahwa bentuk dan gaya baca puisi dapat dibedakan mejadi tiga, yaitu (1) bentuk dan gaya baca puisi secara poetry reading, (2) bentuk dan gaya baca puisi secara deklamatoris, dan (3) bentuk dan gaya baca puisi secara teaterikal.

  • Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Poetry Reading

Ciri khas dari bentuk dan gaya baca puisi ini adalah diperkenankannya pembaca membawa teks puisi. Adapaun posisi dalam bentuk dan gaya baca puisi ini dapat dilakukan dengan (1) berdiri, (2) duduk, dan (3) berdiri, duduk, dan bergerak.

Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi berdiri, maka pesan puisi disampaikan melalui gerakan badan, kepala, wajah, dan tangan. Intonasi baca seperti keras lemah, cepat lambat, tinggi rendah dilakukan dengan cara sederhana. Bentuk dan gaya baca puisi ini relatif mudah dilakukan.

Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi duduk, maka pesan puisi disampaikan melalui (1) gerakan-gerakan kepala: mengenadah, menunduk menoleh, (2) gerakan raut wajah: mengerutkan dahi, mengangkat alis, (3) gerakan mata: membelakak, meredup, memejam, (4) gerakan bibir: tersenyum, mengatup, melongo, dan (5) gerakan tangan, bahu, dan badan, dilakukan seperlunya. Sedangkan intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat katakata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca puisi duduk, berdiri, dan bergerak, maka yang harus dilakukan pada posisi duduk adalah (1) memilih sikap duduk dengan santai, (2) arah dan pandangan mata dilakukan secara bervariasi, dan (3) melakukan gerakan tangan dilakuakan dengan seperlunya. Sedang yang dilakukan pada saat berdiri adalah (1) mengambil sikap santai, (2) gerakan tangan, gerakan bahu, dan posisi berdiri dilakukan dengan bebas, dan (3) ekspresi wajah: kerutan dahi, gerakan mata, senyuman dilakukan dengan wajar. Yang dilakukan pada saat bergerak adalah (1) melakukan dengan tenang dan terkendali, dan (2) menghindari gerakan-gerakan yang berlebihan. Intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat katakata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

  • Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Deklamatoris

Ciri khas dari bentuk dan gaya baca puisi seacra deklamatoris adalah lepasnya teks puisi dari pembaca. Jadi, sebelum mendeklamasikan puisi, teks puisi harus dihapalkan. Bentuk dan gaya baca puisi ini dapat dilakukan dengan posisi (1) berdiri, (2) duduk, dan (3) berdiri, duduk, dan bergerak.

Jika deklamator memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi berdiri, maka pesan puisi disampaikan melalui (1) gerakan-gerakan tangan: mengepal, menunjuk, mengangkat kedua tangan, (2) gerakan-gerakan kepala: melihat ke bawah, atas, samping kanan, samping kiri, serong, (3) gerakan-gerakan mata: membelalak, meredup, memejam, (4) gerakan-gerakan bibir: tersenyumm, mengatup, melongo, (5) gerakan-gerakan tangan, bahu, badan, dan raut muka dilakukan dengan total. Intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat kata-kata tertentu, (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

Jika deklamator memilih bentuk dan gaya dengan posisi duduk, berdiri, dan bergerak, maka yang dilakukan pada posisi duduk adalah (1) memilih posisi duduk dengan santai, kaki agak ditekuk, posisi mriing dan badan agak membungkuk, Dan (2) arah dan pandangan mata dilakukan bervariasi: menatap dan menunduk. Sedang yang dilakukan pada posisi berdiri (1) mengambil sikap tegak dengan wajah menengadah, tangan menunjuk, dan (2) wajah berseri-seri dan bibir tersenyum. Yang dilakukan pada saat bergerak (1) melakukan dengan tenang dan bertenaga, dan (2) kaki dilangkahkan dengan pelan dan tidak tergesa-gesa. Intonasi dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat kata-kata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

  • Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Teaterikal

Ciri khas bentuk dan gaya baca puisi teaterikal bertumpu pada totalitas ekspresi, pemakaian unsur pendukung, misal kostum, properti, setting, musik, dll., meskipun masih terikat oleh teks puisi/tidak. Bentuk dan gaya baca puisi secara teaterikal lebih rumit daripada poetry reading maupun deklamatoris. Puisi yang sederhana apabila dibawakan dengan ekspresi akan sangat memesona.

Ekspresi jiwa puisi ditampakkan pada perubahan tatapan mata dan sosot mata. Gerakan kepala, bahu, tangan, kaki, dan badan harus dimaksimalkan. Potensi teks puisi dan potensi diri pembaca puisi harus disinergikan. Pembaca dapat menggunakan efek-efek bunyi seperti dengung, gumam, dan sengau diekspresikan dengan total. Lakuan-lakukan pembaca seperti menunduk, mengangkat tangan, membungkuk, berjongkok, dan berdiri bebas diekspresikan sesuai dengan motivasi dalam puisi. Aktualisasi jiwa puisi harus menyatu dengan aktualisasi diri pembaca. Inilah bentuk dari gaya baca puisi yang paling menantang untuk dilakukan.

 

Terima kasih..

 

Salamku,

Saran dan Kritik dapat dilontarkan ditautan kolom komentar ya.. 🙂 

 

Apuet saartje

Tak Berkategori

Aliansi Cyborg, Politik Teknologi

Teka-teki “tuan dan pelayan”

Suatu waktu, di dunia Barat, pernah terjadi perang slogan antara kubu yang menginginkan penjualan senjata api secara bebas, dan kubu yang menghendaki pengendalian penjualan senjata. “Senapan membunuh manusia” merupakan slogan yang dilontarkan oleh kubu yang kedua. Dengan slogan ini, mereka bermaksud meletakkan atribut jahat pada senapan. Slogan ini dibalas oleh Asosiasi Senapan Nasional (ASN) dengan, “senapan tidak membunuh manusia”. Slogan yang pertama berjiwa matrealis: senapan yang bertumpu pada komponen-komponen materialnya (logam, serbuk mesiu), mengubah seorang warga negara yang patuh menjadi penjahat.

Sementara itu, slogan dari kubu lawannya menawarkan pandangan yang humanis: senapan tidak melakukan apa pun oleh dirinya sendiri, atau oleh komponen-komponen materialnya.

Senapan merupakan alat, medium, dan perantara, yang bersifat netral terhadap kehendak manusia. Jika sang pembawa senapan adalah orang baik, senapan itu akan digunakan secara bijaksana, dan hanya digunakan untuk membunuh ketika dipandang perlu. Tetapi jika sang pemegang senapan berwatak jahat, pendendam, maka dengan senapan yang sama, pembunuhan akan menjadi secara efisien.

Apakah yang ditambahkan senapan pada aksi penembakan? Dalam konteks materialis, segalanya: seoramg warga negara negara yang lugu akan menjadi kriminal dengan senapan di tangannya. Senapan itu tidak sekedar membantunya, tetapi jiga memerintahkannya untuk menarik pemicu senapan.

Menurut pandangan materialis ini, setiap artefak teknologi memiliki skrip (yakin, naskah, skenario, kumpulan teks yang membangun cerita atau rangkaian aksi-aksi), yang membuat artefak ini mampu memaksa manusia untuk memainkan peranan, yang sesuai dengan skrip itu.

Kehadiran senapan di tangan seseorang, ibarat kehadiran skrip cerita di tangan seorang pemain sinetron. Di hadapan senapan, manusia merupakan pelaku pasif yang patuh. Kualitas, kompetisi, dan kepribadian kita sebagai subyek, bergantung pada apa yang kita pegang di tangan, atau pada apa yang kita miliki.

Sebaliknya, pandangan humanis meletakkan sifat netral pada senapan sebagai penghantar kehendak manusia, tanpa menambahkan apa pun pada aksi manusia. Artefak teknologi berperan sebagai pengantar yang pasif, yang dengan perantaranya, kebaikan dan kejahatan sama-sama dapat mengalir. Di tangan seorang tentara bermoral, senapan memuntahkan pelurunya pada teroris. Tetapi di tangan tentara tak bermoral, peluru ini dapat bersarang di tubuh warga sipil yang tak berdosa. Seorang humanis bersikap seperti moralis bahwa yang penting adalah manusianya (moralnya), dan bukan apa yang manusia miliki.

Satu-satunya sumbangan senapan adalah mempercepat aksi pembunuhan. Pandangan ini menempatkan hal-hal teknik sekedar budak-budak yang terampil dan yang patuh.

aliansi cyborg aliansi cyborg, politik teknologi

Tak Berkategori

Ternyata semua hanya kurir

Dalam menyikapi hidup, aku banyak belajar dari hal-hal yang aku anggap besar dan megah. Maka itu juga yang menuntunku untuk mendorong langkahku menuju kemegahan dan kebesaran. Awalnya aku kagum pada gunung, lalu aku kagum pada langit, kemudian aku kagum pada semesta malam yang seperti karung tak berujung dimana didalamnya berisi bintang-bintang yang berlaksa-laksa jumlahnya.

Langkah demi langkahku adalah gunung. Dimana setiap pijakan langkahku membuat semua orang harus mendongak memandang kemegahanku.

Wawasanku adalah semesta malam yang luas tak berujung, sehingga membuat orang nanar untuk meruntut hingga kemana kecerdasanku berbatas.

Aku adalah gunung, juga semesta malam, juga bintang-gemintang. Akan hingga kemana aku hendak menambah kehebatanku lagi? ternyata aku temukan kekosongan. Ada hal yang harus kutata ulang, ada pada kekeliruanku menerima suguhan. Baik suguhan Gunung, Semesta malam yang lengkap dengan bintang-bintangnya.

Aku senang menerima suguhan gunung yang mengajariku menjadi besar.
Aku berhasil menjadikan langkahku besar dan tinggi, namun aku tak belajar dari keanggunan gunung yang selalu rendah hati memberi tempat bagi awan-awan lembut untuk bertengger di kepalanya. Aku lupakan bahwa meski gunung itu diam, namun selalu gemulai menampilkan tarian sujud yang menggetarkan. Yakni tarian yang tak selalu meletakkan kepala berkacak congkak, namun malah merunduk dan bahkan merelakan untuk diinjak.

Aku melupakan suguhan lebih penting dari gunung.

Aku kagum pada langit yang luas dan menaungi segala permukaan bumi. Kukira itulah tugas langit kepadaku, mengirimkan suguhan tentang keluasan yang holistik. Maka aku tak cukup hanya besar, tapi juga tinggi dan menaungi. Namun aku mengabaikan suguhan langit bahwa keluasan dan ketinggiannya yang holistik mengajarkan juga kerelaan memberi arti tanpa menuntut manusia menemukan keberadaannya.

Aku menerima dengan gegap gempita suguhan semesta malam dengan bintang gemintangnya. Hingga suguhan itu menginspirasiku untuk memiliki kecerdasan dan ketiada-berujungan. Tak mampu diruntut dan tak bisa diprediksi dengan kemampuan berpikir rata-rata. Karena aku adalah semesta yang tidak untuk diintai kemana ujungnya, aku hanya untuk dikagumi dan membuat orang terpenjara menanti misteri keindahanku setiap malam.

Namun aku belum belajar dari semesta malam yang baru belakangan kusadari telah disuguhkan kepadaku sejak semula. Yakni, bahwa semesta malam dengan kekayaan taburan bintangnya tetaplah memiliki ujung. Dia akan berujung pada fajar dan memberikan tempat kepada pagi untuk menunaikan peran dan suguhannya. Akhirnya aku belajar kepada fajar yang menyapa hangat kebekuan malam, menyalurkan semangat kepada semua makhluk. Kepada tanaman, kepada binatang, kepada burung-burung yang meriangkan hari dengan kicauan nyaringnya.

Kini, disaat aku telah terlanjur menyangka aku besar dan megah mengalahkan gunung dan langit dan semesta malam dan bintang-bintang. Ternyata tak memenangkan apa-apa. Bahkan tak menang kepada burung-burung kecil yang sigap menerima suguhan semangat fajar kemudian menyalurkannya kembali dengan indah untuk menyemangati kehidupan. Mereka semua ada untuk menyuguhkan pesan.

Aku belajar menyuguhkan, dan terus melatih kesanggupanku menghantarkan suguhan seiring dengan alunan kehidupan yang sarat pesan. Maka, kini tak mau lagi aku terkecoh dengan kemegahan, kebesaran, kegemerlapan, keluasan, dan lain sebagainya yang menjerumuskanku merasa bernilai tapi nilai itu sendiri tak pernah kugapai. Aku malah harusnya belajar kepada yang kecil, terabaikan, terlupakan, diremehkan, namun sesungguhnya membawa kedalaman pesan yang sama besar.

Belajar kepada garam yang menyuguhkan asin. Belajar kepada cabe yang menyuguhkan pedas.
Mereka semua seakan serempak berkata penuh pesan kepadaku : “kamu mampu meniru kehebatan dan menyematkan bintang-bintang hingga berjuntai sebagai manik-manik di sekujur gaunmu, namun akankah kamu mampu meniru kami yang senantiasa menyampaikan pesanan dengan kondisi baik dan terjaga hingga membuat bahagia bagi yang menerimanya”.

“Ternyata semua kurir, aku demikian pula”

Tak Berkategori

Pencitraan bangsa melalui artefak budaya

   Sebuah bangsa tidak hanya terdiri atas manusia-manusia, tetapi juga dataran dan artefak-artefak budaya. Akan seperti apa Amerika Serikat tanpa Deklarasi Kemerdekaan, Prancis tanpa Menara Eiffel, Cina tanpa Tembok Besar? Tentunya yang dimaksud di sini bukanlah bahwa bangsa-bangsa ini tidak ada tanpa kehadiran artefak-artefak budaya tersebut, melainkan bahwa cara anggota-anggota masyarakat memandang dirinya akan menjadi agak berbeda tanpa kehadiran artefak-artefak tersebut.

   Untuk memahami keterkaitan ini, kita cukup membayang bangsa Indonesia tanpa artefak-artefak budayanya. Ambil contoh Candi Borobudur sebagai contoh. Borobudur dikenal luas sebagai salah satu monumen religius yang terbesar di Asia Tenggara. Peran pentingnya bagi citra Indonesia tak bisa dimungkiri. Ini merupakan objek kebanggaan yang setiap warga bangsa Indonesia bisa menampilkannya untuk menunjukkan bahwa bangsa ini lahir dari sebuah peradaban besar.

   Sekarang, coba kita bayangkan bahwa Borobudur tidak disakralkan bahwa ia tidak lebih dari sebuah susunan bebatuan tua. Tentunya tidak banyak turis asing yang akan berpergian ribuan kilometer hanya untuk melihat sesusunan bebatuan tua ini. 

Sumber gambar dari situs google

   Bayangkan seperti inilah yang sesungguhnya ada pada pikiran para petani lokal sebelum Borobudur ditemukan ulang oleh para Arkeolog Belanda. Ia sekedar sebagian panorama, sesusunan bebatuan tua tanpa keagungan yang jelas.

   Akan tetapi, coba kita bayangkan seandainya yang disakralkan itu adalah sesusunan bebatuan bebatuan lain, selain Borobudur. Misalnya saja, sebuah pemakaman kuno Cina di Sulawesi Selatan.

Sumber gambar dari situs google

   Bangsa Indonesia akan melihat dirinya sangat berbeda jika ribuan turis terbang ke Sulawesi setiap tahun untuk menyaksikan pemakaman besar Cina tersebut. Mungkin dalam citra Indonesia yang terbayangkan akan terdapat lebih luaa ruang bagi orang-orang Cina dan lebih sempit ruang bagi orang-orang Jawa. Demikian inilah kekuatan objek-objek material ketika berfungsi sebagai simbol-simbol sebuah bangsa.

   Banyak objek material yang arti pentingnya bagi sebuah bangsa lebih dari sekedar simbol-simbol Teknologi telekomunikasi, sebagai contoh, memfasilitasi sekejap yang melintasi jarak-jarak penjang. Sementara Satelit Palapa bisa menjadi simbol yang potensial, ia juga merupakan instrumen yang difungsikan untuk mewujudkan transmisi suara dan gambar secara sekejap dan bermutu tinggi, melintas seluruh kepulauan di Indonesia. Bagi para penduduknya, Palapa dipandang telah menciptakan sebuah sistem telekomunikasi yang benar-benar mencakup seluruh wilayah bangsa Indonesia.

   Nilai pentingnya fungsi tidak bisa dipandang rendah. Bagaimanapun juga, Komunikasi merupakan fondasi bagi interaksi sosial. Orang-orang yang tidak mampu berkomunikasi satu dengan yang lainnya, akan terpisah satu dari yang lainnya, baik secara sosial maupun kultural. Tetapi, jika orang-orang mampu berkomunikasi satu dengan yang lainnya, berbagai bentuk hubungan sosial tampil ke permukaan, contohnya pernikahan antara keluarga-keluarga dari daerah-daerah yang berbeda, ikatan perdagangan tumbuh dan menguat, pergerakan politik bangkit, dan mungkin, operasi militer lebih mudah dilaksanakan.

Peranan medium sebagai pesan

     Jika kita menganalisis proses bagaimana masyarakat terbentuk, yang kita temukan adalah bahwa media yang digunakan untuk komunikasi tidak pernah netral: media ini memberi bentuk atau struktur yang khusus bagi masyarakat. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Marshall McLuhan dalam fase terkenalnya : The medium is the message. Apa yang ia maksud dengan pernyataan ini adalah bahwa jika kita hendak memahami efek-efek media pada masyarakat, kita tidak boleh memusatkan perhatian hanya pada kandungan pesan-pesan, contoh’ kita harus melihat pada media (yaitu teknologi-teknologi) itu sendiri.

   Setiap medium Komunikasi memiliki karakteristik dan kualitasnya tersendiri. Karakteristik ini menjadikan bisa atau menghalangi Komunikasi dalam beragama cara. Tinjau misalnya, peradaban antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Ketika seseorang berbicara dalam bahasa Jawa, ia harus segera memutuskan kosakata yang digunakan, contoh’ kromo atau ngoko. Tak menjadi soal apakah kandungan pesan dari ucapannya, penggunaan kosa-kata itu sendiri telah berpengaruh memposisikan pembicaraan dan pendengar dalam sebuah hierarki sosial yang terdefinisi dengan baik.

   Tidak demikian keadaannya dengan bahasa Indonesia. Bahasa ini rekatif Egaliter sehingga memungkinkan terjadinya percakapan tanpa mempertimbangkan perbedaan status usia maupun keturunan. Sebab-sebab bagi perbedaan antara kedua bahasa ini bisa diatributkan pada perbedaan asal-usul sosiologi keduanya. Struktur linguistik bahasa Jawa — sebagaimana yang kita kenal sekarang — dibentuk dan disempurnakan oleh para intelektual Jawa dan psikolog Belanda yang melakukan penelitian di dalam lingkungan Keraton. Bagi orang-orang Keraton, semakin tinggi statifikasi sebuah bahasa semakin baik, karena ini memungkinkan pengukuhan hierarki-hierarki sosial, saat mereka telah menempati posisi yang dominan. Dengan demikian, bahasa dapat menjadi sarana yang penting bagi para Sultan untuk memelihara kekuasaan politik mereka.

   Berlawanan dengan itu, bahasa Indonesia muncul dari bahasa Melayu, yang merupakan bahasa pasar. Ia juga merupakan medium Komunikasi yang digunakan orang-orang di berbagai kepulauan di Indonesia untuk melakukan pertukaran barang-barang, menentukan harga-harga, dan terikat dalam perdagangan. Untuk tujuan-tujuan seperti ini, status sosial tidak berperan penting. Yang penting adalah melibatkan sebanyak mungkin orang dalam kegiatan-kegiatan tersebut dengan kendala-kendala budaya yang minimum. Sifat-sifat Egaliterian dan inklusif bahasa Melayu merupakan hal-hal yang para Nasionalis Indonesia inginkan bagi bahasa mereka. Dan inilah alasan bagi mereka untuk memiliki bahasa Melayu sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia.

Daftar pustaka

Balada manusia dan mesin — episode yang hilang di panggung teknologi

Tak Berkategori

Kepemimpinan Politik Sutan Sjahrir

SUTAN SJAHRIR

 

2

 

Disusun Oleh :

Mahfud Triono – 1101151274

3IKM1 (Reguler Malam)

Komunikasi Politik

Universitas Bung Karno

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dosen : A. Mucharam, Drs.,M.Si

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. Lahirdari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam. Ayahnya penasehat Sultan Deli dan Kepala Jaksa (landraad) di Medan, status ayahnya mendorongnya bersekolah di sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) kemudian sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Disana aktif di berbagai kegiatan sosial seperti mendirikan sekolah Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat bagi anak-anak dari keluarga tak mampu. Aktifitasnya kemudian mengarah politik, Sjahrir termasuk sepuluh orang penggagas pendirian Himpunan Pemuda Nasionalis, Jong Indonesi (20 Februari 1927) ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan kedaerahan. Perhimpunan itu menjadi Pemuda Indonesia yang menggerakkan Kongres Pemuda dan mencetuskan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 di Jakarta. Saat itu, usianya masih muda (19 tahun) dibanding pemuda lainnya seperti Muh. Yamin (Jong Sumatera), Soegondo Djojopoespito (Jong Java) atau Mr Sunario (utusan Kepanduan). Sjahrir mewakili Jong Indonesie (Pemuda Indonesia) diakui sangat cerdas dan ikut memperjuangkan berdirinya negara Indonesia. Disitu, ia bertemu dengan Amir Sjarifoeddin (Jong Batak) untuk pertama kalinya. Bersama kawan sekolahnya, ia mendirikan perkumpulan sandiwara Batovis. Setiap bulan melakukan pementasan berbahasa Belanda di gedung Concordia, disaksikan orang Belanda. Di dalam ceritanya sering disisipkan ide kebangsaan dan kritik terhadap pemerintahan kolonial.

Sjahrir pada dasarnya tidak membenci orang Belanda namun menentang kolonialisme. Bersama kawan-kawanya mendirikan pula kelompok studi Patriae Scientiaeque, ajang diskusi dan debat politik kalangan pemuda dan pelajar mengenai ide kebangsaan, disini ia mengasah kemampuan berdebatnya ia melanjutkan kuliah ke Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam kemudian pindah ke Leiden School of Indology, tempat sejumlah intelektual Belanda ternama, seperti Snouck Hurgronje, Van Vollenhoven, dan G.A.J. Hazeumengajar. Disana bergabung dengan Perhimpunan Indonesia dan kelompok diskusi De Socialist dimana Hatta sebagai ketuanya. Ia mendalami sosialisme serta mengupas pemikiran para filsuf sosialis seperti Rosa Luxemburg, Karl Kautsky, Otto Bauer, Hendrik de Man serta Marx dan Engels.

 

BAB II

PEMBAHASAN

B. Perjuangan Menuju Kemerdekaan

a. Masa Kecil-Remaja (1909 – 1929)

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang – Hindia Belanda, pada tanggal 5 Maret 1909. Ia merupakan anak seorang Jaksa lokal yang bernama Mohamad Rasad Gelar Maharajo Sutan, dan ibu bernama Puti Siti Rabiah. Ketika Sjahrir berusia empat tahun, ayahnya diangkat oleh Sultan Deli untuk menjadi kepala jaksa sekaligus penasihat di Kesultanan Deli. Pengangkatan jabatan yang sangat bergengsi ini membuat orangtua memiliki dana yang cukup untuk menyekolahkan Sjahrir di sekolah-sekolah berkualitas di Medan dan Bandung. Di Medan, Sjahrir mengenyam pendidikan di ELS & MULO terbaik di Medan (ELS & MULO itu istilah SD & SMP jaman Belanda). Setelah lulus dari MULO tahun 1926, Sjahrir melanjutkan sekolahnya ke AMS paling bergengsi di Bandung (AMS istilah SMA zaman Belanda). Punya kesempatan besekolah di tempat bergengsi dengan kondisi finansial orangtua yang berkecukupan gak bikin Sjahrir takabur, tapi justru dia pertanggungjawabkan dengan optimal. Selama bersekolah, Sjahrir dianggap bintang kelas yang sangat cerdas, rajin baca buku filsafat, dan sangat aktif dalam berbagai macam kegiatan. Dari mulai klub teater, bermain musik biola, sampai ikut club sepak bola di Bandung.

Saat sebagian anak-anak muda Indonesia jaman sekarang males-malesan sekolah, Sjahrir remaja malah MENDIRIKAN SEKOLAH untuk kaum miskin di Bandung pada umur 18 tahun! Sekolah rakyat ini dia kasih nama Tjahja Volksuniversitet atau dalam bahasa Melayu berarti “Universitas Rakyat Cahaya”. Di lembaga pendidikan ini, entah berapa banyak anak-anak kurang mampu di Bandung yang diajari membaca dan menghitung secara gratis.

Serpak terjang Sjahrir remaja gak cuma dalam bidang sosial aja, bersama temen-temennya, Sjahrir mendirikan sebuah klub diskusi politik untuk para pemuda di Bandung, yang dinamakan Patriae Scintiaeque. Kegiatannya di klub diskusi itu membawa takdir pertemuan dengan sosok aktivis lain dari klub debat tetangga (Algemenee Studie Club), yang dipimpinan seorang mahasiswa Bandung Technische Hogeschool (ITB) bernama Koesno (alias Ir.Sukarno). Sampai akhirnya, Sukarno (26 tahun) bersama teman-temannya di klub diskusi mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927. Dalam partai itu, Sjahrir (18 tahun) dipercaya untuk mengurus organisasi pemuda PNI yang awalnya disebut Jong Indonesien, lalu berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Bentuk kepercayaan yang diberikan pada Sjahrir ini ia manfaatkan untuk membuat momentum bersejarah bersama dengan Jong Indonesien pada tahun 1928, dengan mewujudkan Kongres Pemuda Indonesia II yang menghasilkan semangat perjuangan baru, bernama Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

b. Masa Studi di Belanda & Perjuangan Awal (1929-1935)

Setelah lulus dari AMS tahun 1929, Sjahrir melanjutkan kuliah di Eropa, tepatnya di Fakultas Hukum Universiteit van Amsterdam. Tidak lama setelah keberangkatan dirinya ke Amsterdam, pemimpin Hindia Belanda waktu itu Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff, membuat perintah untuk menangkap pemimpin-pemimpin PNI termasuk Soekarno, Gatot Mangkupradja, dkk di tanah Hindia Belanda. Nyaris Sjahrir ikut ditangkep, beruntung ia lekas meninggalkan Indonesia kuliah di Belanda.

Pada masa awal kuliahnya, Sjahrir aktif mengikuti kegiatan sebuah klub studi yang bernama Sociaal Democratische Studenten Club. Klub studi yang diikutin sama Sjahrir ini merupakan bentukan dari Partai Sosialis Demokrat Belanda (Sociaal Demokratische Arbeiderspartij – SDAP). Pada klub inilah Sjahrir untuk pertama kalinya membedah secara mendalam gagasan-gagasan politik kelas dunia yang sedang bergelora saat itu, seperti pemikiran Friedrich EngelsOtto BauerKarl MarxRosa Luxemburg, dan filsuf kelas dunia lainnya. Mendapatkan kesempatan pendidikan di Eropa benar-benar membuat pemikiran Sjahrir menjadi terbuka dari berbagai macam gagasan serta situasi politik internasional yang sedang terjadi.

Sampai pada akhirnya, karena masalah keuangan keluarga, Sjahrir terpaksa harus pindah dan tinggal di rumah ketua klub SDAP sekaligus sahabatnya, Salomon Tas. Sejak saat itu Sjahrir pindah kuliah ke Universiteit Leiden dan mulai belajar mandiri dan bekerja di sebuah perusahaan transportasi. Pengalaman pertamanya bekerja itu, membuat Sjahrir betul-betul merasakan ketidakadilan bagi kaum pekerja. Pengalamannya bekerja serta aktivitasnya di serikat buruh inilah yang membuat pemikiran Sjahrir semakin terarah pada gagasan sosialis demokratis yang mengusung kesetaraan dan keadilan.

Sementara itu, pergerakan awal untuk membebaskan Hindia Belanda sudah dimulai oleh para senior Sjahrir, tepatnya oleh gerakan Perhimpunan Indonesia (PI) di Rotterdam yang saat itu diketuai oleh Mohammad Hatta. Singkat kata, Bung Hatta yang saat itu lagi ribet oleh berbagai macam hal, memerlukan sosok pendamping. Berita tentang seorang pemuda berbakat yang bernama Sjahrir membuat Hatta memanggilnya untuk membantu pergerakan dari Perhimpunan Indonesia sebagai sekretaris.

Sejak saat itulah, duet maut 2 (calon) Bapak Bangsa Indonesia yang berbeda umur cukup jauh ini dipertemukan dan mulai beradu gagasan kenegaraan demi cita-cita gila mereka untuk memerdekakan Indonesia. Namun demikian, duet maut ini sempat mengalami kendala karena konflik internal dalam PI, dimana sebagian besar anggotanya menginginkan perjuangan kemerdekaan dari arah ideologi komunis, sementara Sjahrir dan Hatta lebih cenderung ke arah sosialis & nasionalis. Akhirnya Hatta dan Sjahrir pun dikeluarin dari keanggotaan PI.

Sementara itu, keadaan perjuangan di tanah air juga sedang terhambat. Terutama pasca penangkapan Soekarno tahun 1929 oleh de Graeff, pergerakan kemerdekaan yang tadinya dimotori oleh PNI semakin ciut. Terlebih lagi, pecahan PNI yang membentuk partai baru bernama Partindo malah bersikap cenderung kooperatif terhadap pemerintah Hindia-Belanda. Ketika pergerakan kemerdekaan Indonesia hampir padam sepenuhnya, Hatta & Sjahrir segera membentuk surat kabar yang dinamakan Daulat Ra’jat untuk terus menyuarakan suara pemberontakan pada Hindia Belanda untuk membakar semangat pemberontakan.

Selain aktif menulis di surat kabar, Hatta dan Sjahrir yang gemas dengan gerakan lapangan akhirnya memutuskan untuk membentuk kembali PNI-Baru tahun 1931. Berbeda dengan PNI-Lama bentukan Sukarno yang bersifat menggalang massa secara serabutan, PNI-Baru ini lebih bersifat ke kaderisasi yang mengutamakan pendidikan bertahap bagi para anggotanya untuk menjadi aktivis pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kalo Sukarno fokus pada kuantitas, Sjahrir & Hatta fokus pada kualitas. Nah, pada titik inilah Sjahrir & Hatta kembali menegaskan bentuk perjuangan mereka bahwa cita-cita mereka bukan sekedar mendapat kedudukan setara dengan Kerajaan Belanda sebagai anggota persemakmuran, tapi untuk menjadikan Indonesia negara yang merdeka sepenuhnya.

 

c. Memulai Pergerakan PNI-baru di Hindia (1931-1934)

Pada tahun 1931, Sjahrir memutuskan untuk sementara meninggalkan studinya dan kembali ke Jakarta untuk terjun langsung dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dengan tokoh-tokoh dan aktivis nasional. Sementara Hatta masih di Belanda karena kagok ingin menuntaskan gelar doctorandus yang tinggal sebentar lagi selesai.

Sesampainya di Batavia (nama Jakarta dulu), yang ada di benak Sjahrir hanya satu, yaitu bagaimana mengagitasi pemuda-pemuda potensial untuk ikut gerakan kemerdekaan (baca=gerakan pemberontakan) melawan Hindia Belanda. Tentu ini bukan hal mudah untuk mengajak para kaum muda untuk memberontak, tapi kepiawan dan pengalaman Sjahrir sewaktu aktif di serikat pekerja Belanda sangat membantu dalam membentuk jaringan underground pemberontakan sampai-sampai tidak terdeteksi (setidaknya sampai 1934) oleh polisi Hindia-Belanda.

Kaderisasi kaum muda semakin gencar terutama ketika Sjahrir didaulat menjadi ketua umum PNI-baru pada kongres PNI-Baru Yogjakarta 1932. Gagasan yang menginspirasi Sjahrir dalam mendidik kaum muda bermuara pada ide-ide Karl Marx yang mengusung kesejahteraan sosial, kesetaraan, serta kemandirian ekonomi. Peristiwa ini dinilai cukup unik dalam sejarah, ketika biasanya ide sosialisme ditanamkan di kalangan proletariat dan kaum buruh. Di tanah Hindia, gagasan ini malah diusung oleh kaum terpelajar dan kalangan menengah atas. Akibatnya, gerakan ini berjalan jadi jauh lebih cerdas dan terukur serta tidak mudah goyah oleh isu-isu propaganda. Hal ini membuat Belanda semakin kewalahan dalam meredam aktivitas gerakan Sjahrir, dkk.

Tahun 1933, Hatta kembali ke tanah Hindia dengan menyandang gelar dokterandus. Kedatangan Hatta disambut baik kalangan aktivis Hindia sekaligus membuat Sjahrir menyerahkan kepemimpinan PNI-Baru ke seniornya tersebut. Sementara itu, Sukarno yang sudah dibebaskan dari penjara Sukamiskin juga terus berjuang melalui ‘kendaraan’ lain, yaitu Partindo. Pada saat itu, Sukarno & Partindo yang fokus pada penggalangan massa secara kuantitatif mengklaim memiliki pengikut lebih dari 20,000 orang, sedangkan PNI-Baru yang fokus pada kaderisasi dan anggota yang terdidik, baru memiliki 1,000 anggota.

Gub Jend, de Graeff yang pensiun tahun 1931 diganti oleh Bonifacius Cornelis de Jonge. Baru saja menjabat, Jonkheer de Jonge langsung menghadapi pergerakan para aktivis kemerdekaan yang semakin terkoordinir dan memiliki basis massa. Akhirnya De Jonge harus kerja extra untuk memata-matai serta menangkapi orang-orang yang terbukti terlibat dalam gerakan pemberontakan. Salah satu tokoh yang ditangkap pertama adalah Sukarno (lagi) tahun 1933. Khawatir dengan basis massa Sukarno yang sangat banyak di Pulau Jawa, Sukarno dibuang jauh-jauh ke Ende, Flores. Februari 1934, setelah itu Sjahrir & Hatta yang ditahan.

Hatta ditahan di Penjara Glodok, Batavia, sedangkan Sjahrir dijeblosin di Penjara Cipinang, Meester Cornelis. Awalnya, sel tempat Sjahrir ditahan cukup lama. Tetapi Sjahrir berfikir akan senasib dengan Sukarno, yang dibuang di tempat tak terduga,

Desember 1934 Sjahrir, Hatta, dan banyak aktivis lain seperti Tjipto MangunkusumoIwa Kusumasumantri, dkk dibuang ke Boven Digoel, di pelosok paling pelosok dari Pulau Papua.

 

d. Penguasaan Jepang dan Perjuangan Menuju Kemerdekaan (1942-1945)

Maret 1942, Belanda nyerah kepada Jepang. Untuk memudahkan Jepang mendapat dukungan rakyat setempat, para tokoh pemberontak seperti Hatta, Sjahrir, dkk dibebaskan tentara-tentara Jepang. Menyusul bulan Juli 1942, Bung Karno juga dibebaskan dari pengasingan di Bengkulu. Setibanya di Jakarta, Soekarno memutuskan untuk bertemu dengan Hatta dan Sjahrir di rumah Hatta. Pertemuan ini bisa dibilang moment yang sangat sangat bersejarah, karena setelah berjuang masing-masing dari tahun 1931, tiga tokoh utama kemerdekaan kita ini baru bertemu untuk pertama kalinya.

Dari hasil pertemuan itu, Sukarno berpendapat bahwa untuk sementara kita perlu mengikuti keinginan Jepang, agar kemerdekaan Indonesia bisa didapatkan tanpa perlu pertumpahan darah. Sementara itu, Sjahrir menolak bentuk perjuangan yang berkooperasi dengan Jepang dan lebih memilih meneruskan perjuangan secara underground dengan membangun basis massa agar semangat kemerdekaan tetap terjaga dari akar rumput. Akhirnya Sukarno & Hatta memilih jalan untuk berkooperasi dengan Jepang dengan harapan Indonesia dapat merdeka tanpa perlu membuang nyawa melawan tentara Jepang yang bahkan mampu memukul mundur Belanda hanya dalam beberapa bulan.

Keputusan Bung Karno & Hatta untuk berkooperasi dengan Jepang seringkali menjadi polemik moral yang tidak berujung dalam sejarah bangsa kita. Di satu sisi, Bung Karno & Hatta menganggap cara yang mereka tempuh adalah “langkah yang paling taktis” agar Indonesia bisa mendapatkan celah untuk memerdekakan diri tanpa perlu berperang melawan Jepang yang kekuatan militernya sangat mengerikan. Sementara bagi tokoh pergerakan lapangan seperti Tan Malaka, bahkan juga Sjahrir, Bung Karno & Hatta dinilai terlalu lembek dan pengecut untuk melawan Jepang secara terang-terangan. Puncaknya adalah ketika Jepang memberlakukan romusha (1942-1945) bagi 4-10 juta penduduk lokal untuk membangun basis militer, terowongan, dan pengangkutan bahan pangan bagi Jepang.

Menjelang pertengahan 1945, Jepang mengalami kekalahan beruntun di peperangan pasifik melawan sekutu. Berdasarkan analisa Sjahrir, ini adalah saat yang paling tepat untuk menyatakan kemerdekaan, ia lalu mendesak Bung Karno untuk segera menyatakan kemerdekaan. Akan tetapi, Sukarno yang udah kepalang basah kerja sama dengan Jepang, memilih untuk berkonsultasi sama Jepang dulu biar ga terjadi pertumpahan darah. Hal ini membuat Sjahrir kecewa dan semakin gemas mendesak tokoh-tokoh besar lain untuk berani menyatakan kemerdekaan, termasuk Bung Hatta & Tan Malaka, tapi semuanya belum berani secara terang-terangan melangkahi kekuasaan Jepang.

BAB III

PENUTUP

C. Kesimpulan

a. Hari-hari menjelang kemerdekaan

Setelah Bom Atom sekutu menghancurkan Hiroshima & Nagasaki (7 & 9 Agustus 1945), analisa Sjahrir sejak berbulan-bulan lalu tentang kekalahan telak Jepang semakin menjadi kenyataan. Lobby demi lobby dia terus mendesak Sukarno & Hatta untuk terus mendeklarasikan proklamasi, tapi “nanti-nanti” terus jawabannya. Sampai hari yang dijanjikan Sukarno akhirnya tiba (15 Agustus 1945) itulah yang sejatinya tanggal proklamasi yang direncanakan. Tapi karena kondisi keamanan yang sangat tidak kondusif mengingat Jepang baru aja sehari nyerah sama Sekutu, Sukarno lagi-lagi menunda kemerdekaan. Di sisi lain, Sjahrir yang udah mengerahkan ribuan orang dari pelosok Jawa untuk datang ke Jakarta, lagi-lagi jengkel dengan Sukarno.

Para pemuda pengikut Sjahrir ikutan jengkel karena pembatalan ini, dan mendesak Sjahrir untuk langsung mengumumkan kemerdekaan! Walaupun jengkel dengan Sukarno, Sjahrir menolak untuk menyatakan kemerdekaan, karena menurut dia Sukarno tetap orang yang paling layak untuk melakukannya, terutama karena basis pendukungnya yang sangat banyak dan kharismanya yang selangit. Sjahrir tetap bersabar, agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan sendiri.

Puncak ketegangan ini memuncak ketika kelompok pemuda dari Menteng (Wikana, dkk) menculik Sukarno & Hatta ke Rengasdengklok. Ketika dengar berita bahwa Dwitunggal beneran diculik oleh pemuda, Sjahrir kaget setengah mati! Bayangin aja, di detik-detik yang menentukan kemerdekaan, sekelompok remaja tanggung berdarah panas malah nyulik tokoh sentral Indonesia!! Menurut gosipnya sih, saking marahnya Sjahrir, salah satu geng pemuda itu ditabokin sama dia, hehehe…

Akhirnya Sukarno-Hatta dijemput balik sama Ahmad Subardjo untuk menyusun teks proklamasi di rumah Tadashi Maeda, Menteng. Keesokan harinya 17 Agustus 1945, akhirnya peristiwa yang dimimpikan oleh para tokoh awal pergerakan Indonesia sejak tahun 1931 terjadi juga. Indonesia akhirnya menyatakan proklamasi kemerdekaan. Sjahrir, sebagai tokoh arsitek gerakan underground yang selalu bergerak di belakang panggung, memutuskan untuk tidak hadir dalam momentum paling bersejarah itu.

 

b. Diplomasi cerdik Bung Kecil untuk mendapat pengakuan Internasional (1945-1949)

Berdasarkan kacamata Indonesia, bangsa ini memang sudah merdeka, tapi masih sangat rapuh. Untuk menjaga status kemerdekaan yang masih bayi ini, Negara Indonesia membutuhkan bentuk sistem pemerintahan yang jelas dan terstruktur. Keesokan harinya Sukarno diangkat menjadi presiden, sementara Hatta menjadi wakil presiden – keduanya berperan sebagai lembaga eksekutif. Sementara itu, dibentuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang kemudian berfungsi sebagai badan legislatif (DPR) agar jadi penyeimbang keberadaan eksekutif. Elemen pemerintah yang krusial ini, dipercayakan kepada Sjahrir untuk menjadi ketua KNIP. Sampai pada akhirnya,14 November 1945 Sjahrir diangkat sebagai Perdana Menteri Indonesia yang pertama pada umur 36 tahun.

Pasca kemerdekaan, Indonesia memiliki 2 PR besar, yaitu: (1) upaya mempertahankan status kemerdekaan dari serangan militer Belanda maupun daerah-daerah terpencil yang masih dikuasai sisa tentara Jepang. (2) Upaya memenangkan pengakuan dunia internasional yang perlu diperjuangkan dalam bentuk perundingan dan perjanjian.

Lagi-lagi, terdapat perselisihan cara pandang antar para Bapak Bangsa kita. Bagi Tan Malaka dan Sudirman yang berjuang di garis depan, kita tidak perlu lagi berunding dengan pihak luar untuk mencapai kemerdekaan yang utuh. Sementara bagi Hatta dan (terutama) Sjahrir, kemerdekaan yang realistis sesungguhnya hanya bisa dicapai secara bertahap, rapi, dan elegan, bukan frontal dengan angkat senjata. Setelah berbagai macam drama perselisihan antar 2 kubu Bapak Bangsa kita. Pada akhirnya, Jendral Sudirman & Tan Malaka banyak berperan pada PR pertama untuk meredam agresi militer. Sementara Sjahrir dan Bung Hatta fokus pada misi kedua, mendapatkan pengakuan dunia internasional.

Dalam upaya menuntaskan misi kedua ini, ada 2 prestasi Sjahrir yang bikin dia dikenang sebagai diplomat ulung yang sangat cerdik membaca situasi dunia internasional. Pertama adalah keputusan cerdiknya untuk memberikan bantuan pada India yang saat itu sedang krisis pangan, dengan mengirim 500,000 ton beras pada 20 Agustus 1946! India yang saat itu masih berada dalam koloni Inggris menyambut baik bantuan itu. Inggris yang memiliki kekuatan politik yang besar di Eropa, mulai menaruh simpatik pada Negara baru “kemarin sore” bernama Indonesia. Dengan sambutan baik Inggris, pada Indonesia. Belanda jadi makin keki.

Jeniusnya lagi, kemungkinan Sjahrir sudah meramalkan India akan segera merdeka dari kolonisasi Inggris dan memiliki kekuatan politik yang cukup kuat. Bener aja, India merdeka dari kolonisasi Inggris 15 Agustus 1947Jawaharlal Nehru, Bapak Bangsa India sekaligus Perdana Menteri pertama masih ingat bantuan dari Sjahrir, akhirnya mengundang Indonesia berpartisipasi di Konferensi Hubungan Negara-negara Asia di New Delhi. Di acara ini, jaringan internasional Sjahrir semakin berkembang dan akhirnya diundang ke berbagai negara untuk memperkenalkan Indonesia. Inilah kenapa strategi diplomasi Sjahrir seringkali disebut “diplomasi kancil”, Setelah dari India, Sjahrir melanjutkan diplomasinya ke Kairo, Mesir, Suriah, Iran, Burma, dan Singapura untuk membangun hubungan baik dan minta dukungan pengakuan dunia kepada Indonesia. Prestasi kedua Sjahrir adalah trik jitu Sjahrir mensiasati hasil Perundingan Linggarjati. Pada November 1946, delegasi Belanda siap berunding dengan delegasi Republik untuk menyelesaikan sengketa wilayah Indonesia. Dengan segala cara Sjahrir mengupayakan agar Belanda mau berunding, Sjahrir akhirnya berhasil mengadakan Perundingan Linggarjati. Walaupun hasil perjanjian Linggarjati dinilai merugikan wilayah Indonesia, tapi dengan cerdiknya Sjahrir mengusulkan tambahan satu pasal, yaitu pasal perundingan tingkat PBB. Pasal tambahan usulan Sjahrir itulah yang menyelamatkan Indonesia ketika Belanda ngelancarin Agresi Militer I tahun 1947. Berkat adanya pasal ini, Belanda terbukti melanggar perjanjian dan harus menuntaskan persengketaan wilayah pada sidang Internasional. Momentum inilah yang membuat seluruh dunia melihat bahwa Republik Indonesia sedang ditindas oleh mantan penguasa koloninya. Dunia semakin berpihak pada NKRI. Belanda tersandung keserakahannya sendiri.

Ibarat pemain catur, Sjahrir awalnya memberikan umpan yang kemudian berbalik menjadi serangan balasan yang merontokan pertahanan politik Belanda. Namun pada akhirnya, giliran Bung Hatta yang menjebol pertahanan terakhir Belanda dengan pukulan telak di Konferensi Meja Bundar (23 Agustus – 2 November 1949). Skakmat! Bung Hatta pulang ke tanah air dengan kemenangan penuh, karena telah berhasil mendapatkan pengakuan kedaulatan resmi dari Belanda dan juga dunia internasional. Di sini kita bisa lihat, kalau bukan karena Bung Sjahrir, Indonesia mungkin gak pernah kepikiran untuk maju lewan jalan diplomasi dan perundingan. Kalau bukan karena kecerdikan Sjahrir juga, dukungan dunia internasional tidak akan sederas itu untuk membela Indonesia di KMB.

 

c. Perlahan Turun dari Panggung Politik (1950-1966)

Karir diplomasi manis Sjahrir sebagai PM ternyata tidak seharum itu di mata orang-orang di kelompok pejuang, seperti Tan Malaka, Sudirman, dkk. Begitu pula Bung Karno dan Amir Sjarifuddin belakangan banyak berselisih pendapat dengan Sjahrir. Puncaknya ketika Sjahrir dan Bung Karno sering cekcok beradu argumen ketika keduanya disembunyikan ke Brastagi dalam kemelut agresi militer Belanda II. Setelah era Demokrasi Liberal dimulai (1950), Sjahrir konsentrasi untuk membangun Partai Sosialis Indonesia (PSI) untuk menghadapi pemilihan umum pertama tahun 1955. Di partai ini ide-ide sosialisme demokrat Sjahrir makin diusung kepada para simpatisannya. Kalo lo mau tau ide-ide sosialis Sjahrir yang dia tawarkan dalam PSI ini, lo tinggal lihat aja sistem pemerintahan di Jerman, Perancis, Swedia, Belanda sekarang ini seperti apa. Pada intinya, gagasan pemerintahan Sjahrir 66 tahun yang lalu adalah konsep yang dilakukan Eropa modern sekarang ini.

Pemilu 1955 pun berjalan. Ide Sjahrir ini kurang dapet banyak tanggapan dari rakyat waktu itu. Sejak saat itu, karir politik Sjahrir terus merosot dan betul-betul menghilang. Pada 7 Januari 1962, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno saat melewati jalan Cendrawasih (Makassar), seseorang melemparkan granat. Granat itu meleset, Presiden Sukarno selamat. Dalam peristiwa itu, Sjahrir dituduh mendalangi percobaan pembunuhan itu, Presiden Sukarno yang saat itu lagi pusing banget menghadapi banyak pemberontakan dalam negeri, agak gelap mata. Sukarno langsung menjadikan Sjahrir sebagai tersangka tanpa proses pengadilan, dan menempatkan Sjahrir sebagai tahanan di Madiun, lalu di Kebayoran baru-Jakarta. Walaupun selama di tahanan Sjahrir diperlakukan cukup baik, tetapi keadaan fisiknya terus menurun. Sampai akhirnya, Sutan Sjahrir terkena serangan 2x stroke hingga membuat Sjahrir tidak mampu berbicara dan agak lumpuh tangan kanannyaAkhirnya, Sukarno memperbolehkan Sjahrir mendapatkan perawatan di luar negeri, asalkan bukan di Belanda. Keluarga Sjahrir memilih Zurich-Swiss, sebagai tempat pengobatannya.

Bulan Juli 1965, Sjahrir beserta keluarganya terbang ke Zurich. Momen itu pula lah yang menjadi momen terakhir Sjahrir melihat tanah air yang ia perjuangkan sepenuh jiwa-raga. Di momen ini, kaki Sjahrir terangkat terakhir kali untuk selamanya dari Indonesia. Tidak lama setelah peristiwa Supersemar, tepatnya 9 April 1966, Sutan Sjahrir meninggal dunia pada umur 57 tahun di Swiss. Hatta terlihat sangat depresi karena ditinggal sahabatnya tersebut. Sampai hari pemakaman, Hatta masih sangat kecewa dengan keputusan Sukarno yang memenjarakan Sjahrir tanpa proses peradilan. Triumvirat Kemerdekaan Indonesia akhirnya resmi bubar.

Selama 5 hari setelah Sjahrir meninggal, Indonesia berkabung total. Beberapa bulan sebelumnya, ternyata Presiden Sukarno telah mempersiapkan Keppres nomor 76 tahun 1966 untuk menjadikan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional sekaligus permintaan agar Sjahrir dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Setelah tiba di Jakarta, jenazah Sjahrir diantar oleh ratusan ribu orang ke pemakamannya. Bayangin, rombongan paling depan udah nyampe Kalibata, rombongan paling belakang baru sampe Bundaran Hotel Indonesia.

Daftar Pustaka

  • Mrazek, R;Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia; Southeast Asia Program Publications Cornell University; 1994
  • Rose, M;Indonesia Free: A Political Biography of Mohammad Hatta; Equinox Publishing, 2010
  • Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa;Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil; 2012, KPG
  • Sjahrir, Soetan“Indonesische overpeinzingen” (Publisher: Bezige Bij, Amsterdam, 1945)
  • Anwar, Rosihan (2010)Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 
  • Anwar, Rosihan (2010) Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

 

Sutan Sjahrir

Tak Berkategori

“Netralismne​ Teknologi”: Sabda Alam atau Agenda Politik?

Di fajar milenium III ini, teknologi informasi, teknologi nano, dan rekayasa genetika berada di puncak pencapaian teknologis manusia. Ketiga bidang ini menjadi pilar-pilar​ penopang manifesto kekuasaan manusia atas alam, melalui manipulasi unsur-unsur elementer penyusun alam. Spesifiknya, rekayasa genetika menjarah gen dan DNA; teknologi nano memanipulasi dunia kuantum; teknologi informasi memproses bit-bit digital sebagai unsur elementer Informasi.

Akan tetapi, manifesto ini perlu ditanggapi secara kritis. Pasalnya, ukuran bagi pencapaian teknologi hanya akan bermakna dan bernilai, jika ia merujuk pada karakter dan kebutuhan esensial manusia itu sendiri.
Gagasan tentang unsur-unsur elementer itu sendiri dilandasi paham reduksionisme bahwa alam semesta tersusun oleh unsur-unsur yang elementer. Seorang reduksionis akan membayangkan rumah sebagai susunan formal batu bata, dan memandang batu bata sebagai unsur penyusun esensial penyusun rumah. Reduksionisme ini sendiri tengah diterpa badai kritik semenjak penyingkapan gejala kuantum dan chaos. Sebagian pakar kini menyerahkan cara memandang alam sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu, yang dikenal holisme.

Pada ranah yang lebih luas, kita menyaksikan supermasi teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Trend teknologi itu sering dipandang sebagai tak terelakkan atau niscaya, karena ia menyandang atribut netral.

Netralismne teknologi memandang bahwa mesin-mesin itu netral sebagaimana netralnya unsur-unsur natural seperti air dan api terhadap nilai-nilai moral/kultural, dan kepentingan-kepentingan sosial politik. Dengan atribut netralnya ini, teknologi lantas diletakkan di atas nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan tersebut.

Ketika nilai-nilai, kepentingan-kepentingan, dipandang sebagai berpihak dan tidak murni, sementara teknologi itu universal, natural dan murni, berhasillah teknologi meraih posisi yang spesial tersebut. Sebagai analogi, gerakan politik sering menggunakan slogan “hati nurani rakyat” untuk menolak pengaruh kelompok-kelompok politik yang mana pun. Dalam konteks ini, peran “hati nurani” dalam aksi politik serupa dengan nature, bumi, Informasi, dalam teknologi.

Sekarang marilah kita menengok ke tataran praktik, tempat miliaran manusia berusaha dengan alam dan membangun masa depan mereka.

“Manusia” dalam kacamata netralismne teknologi

Di situ kita akan temui bahwa aksi teknologi itu sering memiliki dampak yang sulit untuk dikatakan netral. Misalnya, atas nama Bumi dan pengetahuan, melalui isu-isu mendunia seperti Global Warming, Global Economy and Trade, teknologi mendesakkan tatanan baru bagi praktik-praktik produksi, ekonomi, dan perdagangan. Dalam tatanan yang baru ini, batasan-batasan​ politik negara-negara bangsa akan digusur guna memberi jalan bagi Jalan Raya Informasi Global (Global Information Super highways). Mereka yang tidak memiliki infrastruktur informasi ini akan tersisihkan ke luar arena ekonomi global. Begitu pula, pemberlakuan ekolabel sertifikasi proses produksi yang ramah dan bersih lingkungan, akan menyeleksi siapa-siapa yang berhak melanjutkan kegiatan produksi dan perdagangan. Tanpa ekolabel ini, atau sertifikat lain yang sejenis, produksi suatu negara akan sulit untuk masuk ke arena global. 

Tentu saja, nilai penting media informasi dan upaya pelestarian Bumi, tidaklah dapat dimungkiri. Keduanya bermanfaat tidak saja bagi generasi kita, tetapi juga demi generasi-generasi masa depan. Akan tetapi, persoalannya adalah gerakan-gerakan “netral” ini tampaknya​ membawa implikasi-implikasi sosial-politik yang cenderung memihak.

Bagi negara-negara di Dunia Ketiga, tatanan baru yang diusung oleh para utusan alam ini cenderung menempatkan Masyarakat Ketiga di wilayah pinggiran, periferal, di dalam arena internasional. Ukuran-ukuran bagi pencemaran lingkungan, seperti tingkat produksi CO2 misalnya, telah membuat negara-negara tertentu menerima predikat sebagai “pencemar lingkungan”. Sementara itu, negara-negara tertentu lainnya yang menghasilkan sampah radioaktif atau spesies cacat korban percobaan genetika, menyandang gelar “penyelamat alam”.

Di sini tentu bukan tempat untuk mengkritik para juru bicara alam ataupun agenda-agenda global tersebut. Akan tetapi, kita perlu memahami esensi teknologi itu supaya dapat memaknai, menilai, dan menyikapi slogan netralismne teknologi tersebut. Dalam “Inquiry Concerning The Essence of Technology”, filsof Jerman Martin Heidegger menyimpulkan bahwa esensi teknologi (dari akar kata techne atau aletheia dalam bahasa Yunani) adalah pemaujudan, relevation: menjadi maujudnya sesuatu yang sebelumnya potensial. Dalam “Interobjectivity”, Bruno Latour, sosiolog teknologi Prancis, menawarkan istilah “artikulasi” bagi proses pemaujudan hubungan-hubungan intelektual antara manusia dan dunia objek.

Dalam dekade terakhir berkembang kajian-kajian multidisiplin (filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi), tentang praktik-praktik teknologi. Kajian-kajian ini menyimpulkan bahwa keberadaan artefak teknologi, mesin, senantiasa terhubungkan​ dengan aksi-aksi manusia/kelompok sosial. Eksistensi mesin, artefak teknologi, tidak bisa dipisahkan keberadaan agen manusia/sosial di sekitarnya: perancangan, pemproduksi, pengguna, pendana, peregulasi, pengoposisi.

Hubungan antara manusia dan mesin, oleh karenanya, bersifat eksistensial​, dan mewujudkan sebuah entitas baru: entitas manusia-mesin, entitas sosial-teknikal. Sosiolog Donna Haraway menyebut entitas baru ini Cyborg (Cybernetic Orgasnism), sementara Bruno Latour menawarkan aliansi yang melibatkan agen manusia/sosial dan agen material/teknikal sekaligus. Aliansi ini terkukuhkan melalui proses-proses translasi timbal balik, yang serupa dengan proses pengukuhan aliansi politik oleh agen-agen sosial. Oleh karena esensinya yang demikian, teknologi itu tidak pernah dan tidak mungkin netral. Sebaliknya, mesin itu sarat akan muatan nilai kultural dan sosial, yang maujud melalui proses penciptaan secara teknikal, kultural, sosial, dan politikal.

Jika demikian halnya, maka netralismne teknologi itu bukanlah atribut yang alamiah, melainkan ia lebih merupakan slogan yang di gulirkan kelompok-kelompok sosial tertentu, untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan kata lain, netralismne teknologi itu lebih merupakan bagian dari agenda politik ketimbang sabda alam.

Nampaknya ke dalam milenium III ini, keimanan terhadap netralismne teknologi maupun kepasrahan terhadap perkembangan teknologi tampaknya perlu ditinggalkan. Sebaliknya, kita perlu menciptakan kultur, tatanan sosial, politik, untuk memaujudkan teknologi, yang selaras dengan cita-cita kemanusiaan dan bermasyarakat kita. Ini semua adalah demi kelestarian Bumi, demi informasi, demi pengetahuan, dan demi kemajuan peradaban kita.

  1. Ulasan yang lebih lengkap disajikan dalam “Lengsernya Rezim Newton” Seri Penerbitan Sains, Teknologi, dan Masyarakat, Edisi 1, 2000.
  2. Paparan tentang gagasan ini dari beberapa perspektif disajikan dalam rubrik Nukleus.

Demikian uraian tentang netralismne teknologi yang bersinambung dengan kehidupan manusia..

Kritik dan saran di dalam kolom komentar ya 🙂 terimakasih.